Cerita Sex Bergambar Ngentot Dengan Bapak Mertua 2016

Namaku Bunga sekarang berumur 22 tahun. Menikah satu tahun dengan lelaki bernama Alvian. Kami masih belum mempunyai anak. Suamiku adalah seorang pedagang yang sering kali keluar kota. Seringkali aku ditinggal sendiri di rumah.

Bapa mertuaku beberapa kali mengunjungi rumahku. Cerita Sex BergambarBiasanya dia datang saat Alvian ada di rumah, namun pada suatu petang Bapa mertuaku datang saat Alvian keluar kota. "Bapa mau nengok menantu aja deh Bunga" bilangnya padaku.

Habis makan, dia beristirahat di ruang utama rumahku. Dia hanya memakai sarung dengan atasan kaos saja. Sambil mengobrol tersingkap kain sarung Bapa mertuaku. Aku bisa melihat langsung burungnya sudah menegang, tapi anehnya dia cuek tidak cepat-cepat membetulkan sarungnya.
 Cerita Dewasa 17 Tahun - Bunga Disirami Air Mani Bapa Mertua

Langsung naik nafsu syahwatku, terlebih aku baru bersih datang bulan belum sempat ditiduri suamiku. Mendidih darahku saat itu melihat burung Bapa mertua.

Sepertinya burung Bapa mertuaku sudah tegang karena sedari tadi dia memperhatikan aku yang hanya berdaster tipis tanpa pakaian dalam lagi dibaliknya. Ukuran buah dadaku 34D sudah pasti menarik hati Bapa mertuaku. Pantas saja saat aku sajikan makanan, dia asyik melihat leher daster yang sedikit lebar.

Dengan dilanda nafsu, aku meninggalkan Bapa mertuaku masuk ke kamar tidur. Di desak nafsu berahi, aku bergegas naik ke atas kasur memuaskan denyutan kelentitku. Di atas kasur aku tarik dasterku ke atas dada lalu tidur telentang sambil mengangkangkan kaki selebarnya, menggosokan kelentitku.

Alangkah bahagianya aku kalau Alvian bisa memiliki burung sebesar milik ayahnya. Aku terus memejamkan mataku membayangkan khayalanku.

Tanpa ku sadari, pintu kamar tidurku bukan hanya tak diunci tapi juga terbuka lebar hingga Bapa mertuaku bisa langsung melihatku bermasturbasi tanpa tahu kehadirannya. Saat aku memacu birahi sendiri, dia bisa dengan jelas melihat perbuatanku.

15 menit aku memainkan kelentit sambil berkhayal, aku mendengar Bapa mertuaku memanggil namaku. Panggilannya memutus deraan birahiku. Dengan cepat ku toleh ke arah pintu kamar. Berdesir darahku melihat Bapa mertua yang berkulit legam berdiri dengan tangan kanannya memegang kontol yang keras mengacung.

Aku sadar laki-laki itu ayah kandung suamiku. Akupun terkejut, terdiam dengan posisi tangan masih mengusapi kelentit.

Secepat kilat dia bertindak mengambil kesempatan saat aku dilanda kebingungan. Bapa mertuaku menindihiku sambil melebarkan kedua kaiku yang terbuka. Mulut dan tangannya mencaplok kedua susuku yang terbuka dengan daster terangkat sebatas dada.

Tanganku berpindah dari selangkangan ke arah dada menghalangi tindakannya.

Tapi sesaat kemudian terasa memekku mulai dimasuki kepala kontol Bapa mertuaku. Tanganku bergerak menolak kontolnya dari selangkanganku, namun dipeganginya tanganku itu. Hingga terpaksa aku terbaring mengangkang tanpa melakukan perlawanan.

Bapa mertuaku langsung menggenjotkan kontolnya masuk dalam lubang memekku dengan liar menyadari posisiku terpojok. Melihat keganasannya, jelas bahwa dia sedari lama sudah mengincar menyodk kemaluan anak mantunya. Nafsu berahinya bagaikan menghukum tapak zuriat milik anaknya yang masuk masa subur.

Pikiranku berusaha mengenyahkan rasa nikmat dari sodokan kontol Bapa mertuaku namun nafsu membiusku untuk tetap bertahan dalam posisi demikian. Sodokan kontolnya terasa sampai bagian bawah perutku. Sensasi ini sebenarnya sudah sejak lama kurindukan, aku selalu ingin bagian terdalam rahimku digerus batang kemaluan lelaki.

Semakin lama ditindihi, aku semakin pasrah luar dalam. Seluruh jiwaku menjustifikasi besarnya dosa berzina dengan sensasi nikmat yang luar biasa nikmatnya. Tanpa sungkan dari mulutku mengalun erangan rintihan nafsu. Pengakuan tentang keperkasaan kontol Bapa mertuaku senantiasa diproklamirkan mulutku tanpa dapat terkendali.

Hitungan dosa dan penyesalan seolah olah dilenyapkan dengan sensasi nikmat dari arah selangkanganku. Bapa mertuaku sedari tadi membajak telaga buntingku tanpa lelah. Kesuburan ladang zuriatku digemburinya dengan sebaik mungkin.

Kini jelas bahwa Alvian sendiri tidak mampu menyamai keahlian bapaknya dalam mengolah tubuhku. Barangkali itulah sebabnya selama setahun menikah dia masih belum menghamiliku. Setelah cukup rata membajak ladang zuriat dalam memekku, akhirnya tiba saatnya Bapa mertuaku menebarkan benih zuriatnya dalam perutku.

Terbelalak bola mataku dilanda kenikmatan setiap semburan dari ujung kepala kontolnya. Panasnya air mani Bapa mertuaku disambut ledakan syahwat berahiku sendiri. Menggelepar seluruh badanku menerima benih benih zuriat yang cukup banyak tersemai dalam rahimku.

Habis itu kami berdua sama-sama tergolek keletihan setelah mengayuh biduk kenikmatan bersama.

Bertelanjang bulat kami berdua tidur berpelukan sampai pagi.

Siang harinya kembali Bapa mertuaku menyemai benih zuriat yang mampu membuncitkan perutku. Kali ini entotannya berlangsung lebih lama dibandingkan entotannya semalam. Malahan cairan benihnya keluar lebih banyak lagi mengisikan rahimku. Hampir semenit rahimku terasa menadahi cairan perahan nafsu syahwatinya. Saat itulah telepon rumah berdering.

Aku tahu itu adalah panggilan dari suamiku. Namun rasa nikmat yang kurasakan dalam rahimku mendesak aku terus memerah sisa-sisa air benih Bapa mertuaku.

Setelah meyakini kontolnya tidak lagi mengeluarkan muatannya, barulah aku berusaha meraih telepon. Dengan bertelanjang bulat, aku bergegas ke ruang tamu. Itupun setelah semenit lamanya berdering. Bapa mertuaku ikut mengekori di belakang dengan juga tanpa sehelai benang.

Aku berdiri berbincang dengan suamiku lewat telepon, sementara ketika itu juga air mani Bapa mertuaku membasahi pahaku.

Gumpalan mani Bapa mertuaku yang terkumpul di pangkal pahaku lebih kentara. Sisa-sisa kehangatannya masih terasa. Baunya pun cukup kuat hingga aku yang sedang berdiripun bisa menghirupnya.

Suamiku memberi tahu bahwa dia akan terus berada di Makassar dan tetap tinggal disana selama sebulan setengah. Bapa mertuaku bukan main lebar senyuman di bibirnya saat mendengar kabar tersebut. Akupun jadi salah tingkah karena selama masa-masa itu aku akan ditiduri oleh lelaki tua yang hitam legam dan mulai berkeriput.

Memang selama sebulan setengah itu, Bapa mertuaku telah memuaskan aku dengan secukup-cukupnya. Malahan aku terbelenggu di bawah kekuasaannya selama itu. Dia sangat marah saat aku minta izin ke klinik untuk mencegah kehamilan.

Mau tak mau aku pasrah membiarkan keinginan Bapa mertuaku untuk menanggung bunting melalui perzinaan kami. Semenjak itu, aku tidak diperbolehkan Bapa mertuaku keluar rumah.

Over proteksinya memang tepat, jika berpeluang aku selalu ingin ke klinik mencegah terjadi kehamilan hasil benihnya.

Untuk memastikan keinginan ku tak terlaksana, Bapa mertuaku merampas semua pakaianku dan menyimpannya di tempat yang terkunci rapat. Termasuk handuk, selendang, sarung, dan stocking. Makanya aku tidak mendapat akses pada pakaian apapun. Seharian penuh aku bertelanjang bulat.

Setiap kali dia melihat tubuh mudaku bertelanjang, kontol tuanya segera menegang keras. Memang rambut jembutku tak sempat kering selalu basah dibanjuri cairan calon anak dalam rahimku. Meskipun aku tidak rela menanggung akibatnya, akhirnya aku ketagihan ledakan nikmat yang maha hebat itu.

Setelah genap sebulan berlalu, Bapa mertuaku tersenyum bahagia sambil mengusapi perutku. Beberapa bulan kemudian aku mulai sering mula dan muntah muntah. Tak lama perutku terlihat semakin membuncit. Anak yang berkembang dalam perutku adalah bukti hasil perzinaan yang sangat jelas. Dari waktu ke waktu, suamiku kerja di luar kota, pasti Bapa mertuakulah yang menemaniku tidur. Semakin membuncit perutku, semakin bernafsu ia pada tubuhku. Ternyata dia adalah tipe lelaki yang menuykai wanita bunting.
Memang saat itu aku lebih intense dientotinya. Selangkanganku sampai pegal dan memerah dibuatnya. Namun semakin buas Bapa mertuaku mengentoti aku semakin menggila nafsu birahiku sendiri.

Disaat dia entoti aku dengan genjotan yang ganas, sempat dia berjanji untuk memastikan aku bunting lagi setelah melahirkan si jabang bayi nanti. Aku sendiri bagaikan kerbau yang dicucuk hidung saja, hanya menganggukan kepala tanda menyetujui keinginan si Bandot tua.

Setelah lama terbiasa mendapatkan persetubuhan yang begitu hebat dari Bapa mertuaku, tentunya aku selalu gagal puas dengan aksi suamiku sendiri. Disaat Alvian menggenjoti memekku, dalam bayanganku terlintas betapa perkasa ayahnya menyodoki liang rahimku lalu menyemai air maninya panas, kental dan banyak.

Related Posts:

0 Response to "Cerita Sex Bergambar Ngentot Dengan Bapak Mertua 2016"

Posting Komentar